Laman

Jumat, 15 April 2011

Sinopsis 49 Days Episode 8 Part 2


Sinopsis Episode 49 Days 8 Part 2
 
Yi Kyung menjawab seraya melayani pesanan dokter Kyung Bin, “Dokter. Saat itu, kau sudah melakukan hal yang terbaik. Itu bukan kesalahanmu. Kau tidak perlu lagi datang untuk melihatku lagi.” Dokter tersenyum manis, “Aku tau, karena aku dokter. Maka aku akan selalu melakukan hal yang terbaik. Yi Kyung datang saat itu kepadaku, saat aku baru saja menikah selama 3 bulan. Itu adalah saat-saat yang paling indah dalam hidupku, tapi aku baru menyadari kalau aku bertemu dengan orang yang tidak beruntung. Beberapa tahun setelah menikah, karena aku berkendara saat lelah, mobilku mengalami kecelakaan. Istirku mati tepat di depan mataku. Tapi, aku selamat.”

Yi Kyung yang mendengar hal itu terkejut, tangannya bahkan terluka terkena air panas saat menuangkan kopi pesanan dokter kyung bin. Yi Kyung berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Dokter meneruskan perkataannya, “Saat itu aku baru menyadari. Kalau kita belum pernah merasakan sendiri pengalaman itu, maka kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasa sakit itu sendiri. Kalau kau tidak dapat melupakannya, biarkan saja ka uterus merasakan rindu padanya. Karena, aku pun juga melakukan hal yang sama, tidak dapat melupakannya dan terus merindukannya. Meskipun mungkin istriku membenciku.”


Yi Kyung menyandarkan dirinya ke tembok, ia baru saja kembali dari kerja paruh waktunya. Di tangan Yi Kyung terdapat sebuah amplop, dengan enggan dan gugup Yi Kyung membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah foto. Foto dirinya dengan adiknya. *Beberapa situs melansir atau menebak kalau adiknya itu adalah SCHEDULER.*
Ji hyun yang melihat hal itu terkejut, ia membaca nama yang tertera di belakang foto, “Song Yi Kyung. Son Yi Soo. Apakah dia adik unnie?”



Paginya, Ji Hyun sudah kembali meminjam tubuh Yi Kyung dan ia mulai bekerja di rumah Min Ho. Min Ho mempertimbangkan perkataan In Jung untuk memecat YI Kyung. Tapi Min Ho sedikit enggan untuk melakukan hal itu. Ia malah bermaksud agar Yi Kyung, mengundurkan dirinya sendiri. Min Ho membuat tugas rumah yang berat untuk Yi Kyung, : Yi Kyung harus mencuci tanpa mesin cuci. Menyapu dan membersihkan rumah tanpa vacuum cleaner. Menyetrika dan melakukan semuanya tanpa dibantu peralatan. 
Yi Kyung menyadari kalau Min Ho tengah membuatnya susah, ia berkata pada dirinya sendiri, “Apa dia pikir bisa membuatku mundur?” Min Ho ternyata tidak benar-benar ingin Yi Kyung pergi dari rumahnya, sebelum Yi Kyung benar-benar mengundurkan dirinya, Min Ho langsung saja meminta kartu identitas milik Yi Kyung. Saat memberikan kartu identitas itu, Min Ho melihat luka bakar di tangan kiri Yi Kyung. Hmm.. Sisi baik Min Ho mempertimbangkan semua pekerjaan yang baru saja ia suruh dengan kondisi tangan Yi Kyung yang terluka. Yi Kyung berkata pada Min ho, “Aku akan melakukan pekerjaan yang kau katakan itu.”
In Jung pergi menemui ayah JI Hyun untuk memberikan dokumen yang harus ditandatangani. Setelah tugasnya selesai, In Jung langsung pergi begitu saja tanpa melihat keadaan JI Hyun. Melihat hal itu, Ibu Ji Hyun mulai merasa kalau In Jung tidak tulus bersahabat dengan Ji Hyun.

Saat kembali ke kantor, tanpa sengaja In Jung yang baru saja keluar dari taksi, melihat mobil Min ho keluar dari parkiran. Bergegas, In Jung menelpon Min Ho, “Oppa, kau dimana?” Min ho berbohong, “Aku sedang rapat dengan direktur sekarang. Aku akan menelponmu nanti.” Ji Hyun ingin memastikan apa alasan Min Ho pergi dari kantor di jam seperti ini dan kenapa Min ho harus berbohong padanya. Ia lalu pergi menemui sekretaris min ho dan menanyakannya, sekretaris min ho menjawab kalau ternyata Min ho sedang tidak enak badan dan ia ingin pulang untuk beristirahat.

Mengetahui hal itu, In Jung langsung menemui Han Kang. In Jung harus berbuat sesuatu agar Yi Kyung tidak lagi bekerja di rumah Min Ho. In Jung bisa mengetahui perasaan Min Ho yang mulai berubah kepadanya. In Jung datang menemui Han Kang dan membujuk Han Kang untuk datang ke rumah Min Ho untuk menyerahkan design yang dipinta Min Ho. Awalnya, Han Kang menolak permintaan itu karena ia tidak ingin terlibat dengan pembuatan design gedung yang dipinta Min Ho. 
Tapi, perkataan In Jung merubah Han Kang, “Direktur kang baru saja pergi karena ia stress.”. Han Kang terkejut, “pergi? ”. In Jung melanjutkan perkataanya, “Kalau kau tidak ingin membuat design. Paling tidak kau pergi menemuinya dan memberikan draft design sudah kau buat, hal itu bisa menjadi refrensi bagi Direktur Min Ho.” Han Kang punya sifat kepedulian yang tinggi, tanpa berpikir macam-macam, Han Kang pun pergi ke tempa Min Ho dengan membawa draft design gambarnya.


Masalah datang, Yi Kyung sama sekali tidak menyadari kalau Han Kang tengah dalam perjalanan menuju rumah min ho. Yi Kyung masih sibuk mencari-cari dimana Min Ho meletakkan dokumen yang kemarin ia bawa, Karena tidak juga bisa menemukan dokumen itu, Yi Kyung mengeluh “Seperti hantu. Dimana sebenarnya ia menyembunyikannya? Apa seperti di film-film? Di sebuah tempat penyimpanan rahasia?” terka Yi Kyung seraya memeriksa bagian belakang lukisan, barang kali ia bisa menemukan brankas rahasia Min Ho. Tapi, hasilnya nihil. Ia tidak menemukan apapun. Tapi, Yi Kyung tidak kehabisan akal, ia kembali mengecek ke semua sudut di lemari baju dan ia menemukan ruang tersembunyi dibagian bawah lemari baju. Saat membuat laci khusus itu, Yi Kyung berhasil menemukan brankas min ho. Belum berhasil membuka brankas, Min Ho datang dari kantor. Untung saja, Yi Kyung mendengar kedatangan Minho di rumah.

Min Ho masuk ke dalam kamar, Yi Kyung berpura-pura kaget melihat kedatangan Min Ho. Agar Min Ho tidak curiga, Yi Kyung berpura-pura tengah membersihkan ruangan dan menggantung pakaian Min ho di lemari baju. Yi Kyung berkata, “Seharusnya baju-baju ini ditempatkan di sini kan.” Min Ho langsung menghampiri Yi Kyung dan memberikan bungkusan berisi obat untuk luka bakar. Min Ho begitu amat care dengan Yi Kyung, tapi Yi Kyung langsung menolak pemberian Min Ho.


Min Ho memaksa Yi Kyung untuk mengambil obat yang sudah ia berikan, Min ho menahan tangan Yi Kyung agar Yi Kyung tidak pergi. “Jangan bercanda, gunakan ini untuk mengobati lukamu.” Ucap Min ho seraya menatap tajam kearah Yi Kyung. Terpaksa Yi Kyung menjawab, “Ok. Lepaskan tanganku dan berikan obat itu.”
Yi Kyung mengambil dengan kasar obat itu dari tangan Min Ho, tapi kemudian keduanya mencium bau hangus. Yi Kyung dan Min ho bergegas menghampiri sumber bau, ternyata masakan Yi Kyung yang hangus. Seluruh ruangan dipenuhi dengan asap, Min ho berjalan kearah pintu, agar asap tidak menyelubungi seluruh ruangan, Min Ho membuka pintu. Tapi tepat saat membuka pintu, ia berpapasan dengan Han Kang yang baru saja tiba. “Hyung, apa kau tau aku datang?” Tanya Han Kang. Gawatnya, tanpa mengetahui kedatangan Han Kang, Yi Kyung datang menghampiri Min ho untuk menanyakan tentang pancinya yang rusak. Tapi kemudian, suaratnya tercekat saat melihat Han Kang.

Han Kang kesal, ia benar-benar marah. Han Kang menghampiri Yi Kyung, Yi Kyung memundurkan langkahnya. “Yi Kyung, kenapa kau ada di sini? Kenapa kau ada dirumah Hyung?” Yi Kyung berusaha menatap mata Han Kang, “Aku bekerj di sini. Apa ada yang salah?”. Min ho khawatir ia lalu berbicara, “Kau sudah memecatnya karena ku, jadi aku membiarkannya bekerja disini.”. Han Kang sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Min Ho, ia berkata keras pada Yi Kyung, “Kau bilang kau sudah mendapatkan pekerjaan baru. Dan itu ternyata di rumah Min Ho? Apa kau gila?!!” Han Kang membentak Yi Kyung.

Yi Kyung bertahan, ia menahan air matanya. Min Ho lalu menengahi, “Tenanglah, kang-ah.”. Han Kang lalu menjawab, “Hyung, apa yang kau lakukan sekarang?” Han Kang kembali berkata pada Yi Kyung, “Kau harus keluar sekarang juga.” Han Kang menarik tangan Yi Kyung, “Kenapa kau marah? Bukankah orang yang memecatku itu adalah kau. ”. Han Kang menjawab, “Kau tau, ini rumah tunangan sahabatku.” Yi Kyung tidak mau kalah, ia menjawab, “Jadi, apa salahnya. Aku tidak memiliki keterkaitan apapun dengan mereka.”


Seperti kata pepatah, han kang menjilat ludahnya sendiri, “Aku mearik kembali kata-kataku tentang pemecatanmu itu, mengerti? Keluar dari pekerjaan ini segera.” Yi Kyung berkata pada dirinya sendiri, perkataan tulus yang seharusnya ia katakana pada Han Kang saat itu juga, “Hang Kang maaf kan aku, tapi aku harus berada di sini. Aku harus melakukan sesuatu di sini.”
“Aku bilang, aku ingin tetap di sini.” Jawab Yi Kyung, ia menyembunyikan perasaannya dalam-dalam.


Setelah Han Kang pergi, Yi Kyung tidak kuat lagi menahan air matanya. Ia pergi ke kamar mandi dan menangis di sana. Oooh.. Poor Ji Hyun. Beberapa saat kemudian, Yi Kyung melanjutkan pekerjaannya. Ia melirik kearah Min Ho, ia berpikir kenapa Min Ho tidak juga keluar dari rumah. Yi kyung menghampiri Min ho, ia meminta uang untuk membeli bahan masakan. Tapi, Min Ho malah mengajaknya makan bersama. 
Whaaaa… Min ho pikir, alasan kenapa Yi Kyung ingin tetap berada di sini karena ia menyukai Min Ho. Pemikiran min ho yang salah. Dengan curiga Yi Kyung pergi bersama Min Ho. Mereka pergi ke sebuah restaurant kecil di pinggiran kota. Sesampainya di restaurant itu, Min Ho berkata kalau ini adalah restaurant dimana dirinya dan ibunya selalu makan bersama.

Selesai makan, Min ho menawarkan diri untuk mengantarkan Yi Kyung pulang. Tapi, Yi Kyung menolak hal itu. Mereka berjalan berlainan arah, Yi Kyung bergumam pada dirinya sendiri, mengingat beberap kejadian lampau tentang dirinya dan Min Ho. Yi Kyung lalu menyimpulkan kalau, “Kang Min Ho, sebenarnya apa maksud dari semua ini? Kang Min Ho! Atau mungkin.. Apa dia berkata dan memperlakukanku seperti itu karena ia menyukai Song Yi Kyung? Tidak.. Tidak.. Apa dia menyukaiku?”





Yi Kyung kembali ke tubuh aslinya, ia pergi ke kafe dimana ia bekerja paruh waktu. Ji Hyun sudah beberapa kali menekan tombol darurat di handphonenya tapi Scheduler tidak juga datang. Ia melihat kearah luar restaurant dari etalase, tapi scheduler datang mengejutkan dari arah belakang Ji Hyun. Ji Hyun lalu berkata, “Hey, scheduler macam apa kaku? Kau telat dan in itidak masuk di akal.” Scheduler lalu berkata, “Kau seharusnya bersyukur karena aku akhirnya datang. Kenapa kau memanggilku ke tempat seperti ini.” Ji Hyun menjawab, “Kau kan pernah mengatakan padaku kalau kau tidak menyukai tempat tinggal unnie. Jadi aku ingin bertemu kau di kafe ini saja.”


Dengan malas, scheduler menanggapi perkataan Ji Hyun, “Di sini.. atau di sanaa.. Cepat, katakana. Hari ini ada jadwal di club hongdae.” Yi Kyung mengungkapkan maksudnya, “Bantu aku untuk menemukan Song Yi Soo.” Scheduler malah bertanya dengan polosnya, “Apa itu Song Yi Soo? Apa nama sejenis jamur?” ghahahaaa… Ji Hyun menjawab kesal, “Itu nama orang. Song.. Yi.. Soo. Itu sepertinya nama adiknya unni.”


Scheduler menjawab, “Apa itu adiknya, atau apa Song Yi Soo itu sudah mati atau masih hidup, dimana ia tinggal atau apa yang ia lakukan, kenapa ku harus mengetahui hal sepele seperti itu? Kau pikir kita ini teman. Aku.. Aku adalah scheduler.” Scheduler menegaskan, aku scheduler bukan sebuah kantor pusat bantuan. Ji Hyun melihat kea rah Yi Kyung yang tengah berjalan kearah etalase dan membersihkan kaca etalase. “Aku hanya ingin membantu unni.”


Scheduler menjawab, “Kalau kau ingin membantu seseorang, ya sudah bantu saja. Saat ini, waktuku lebih berharga dari pada emas. Kenapa kau melibatkanku ke hal yang seperti ini. Kau tau, jadwalku sebagai scheduler sangat padat. Jadi kau tidak bisa seenaknya menyuruhku seperti itu.” Scheduler bangun dari duduknya lalu berdiri membelakangi Yi Kyung, “Aku tidak akan melakukan hal itu. Tidak akan.”

JI Hyun berkata, “Bukan kah kau juga pernah hidup. Saat kau hidup, kau yakin, kau pasti memiliki seseorang yang kau sukai dan seseorang yang sangat kau cintai. Aku harus melakukan hal itu.” Scheduler menjawab, “Aku bahkan tidak punya waktu untuk mencintai. Aku mati di usia 23 tahun. Shin JI Hyun, apa kau pernah mengalami kematian di usia 23 tahun? Mati diusia muda, bagaimana perasaanmu?” Ji Hyun menjawab seraya menunduk, “Itu sangat mengecewakan.”




Scheduler kembali melanjutkan kata-katanya. “Itu sangat bodoh. Bodoh dan membuatku gila.” JI Hyun menjawab, “Tapi itu benar-benar sangat menyedihkan.” Secara engga langsung scheduler menceritakan masa silamnya sebelum ia menjadi scheduler, ia melanjutkan “Apa yang terlihat bodoh adalah saat kau hidup kau menikmati hidupmu. Sampai kau ditusuk dari belakang dan itu sangat menyedihkan.”

Ji Hyun berpikir, lalu berkata “Bukankah kau bilang kau kehilangan semua ingatanmu saat kau hidup sebelum kau menjadi scheduler?” Scheduler menjawab, “Meskipun semua ingatanku hilang, tapi perasaan itu masih tersisa. Apa kau pikir aku hidup sebagai scheduler tanpa alasan? Aku mati muda dan aku tidak dapat hidup kembali.” Ucap Scheduler. Ia melangkahkan kakinya lalu berputar, tapi hampir saja tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Yi Kyung. Yi Kyung berhenti tepat di depan Scheduler. Yi Kyung sepertinya menyadari kehadiran scheduler di depannya.
Favorite scene, chemistry mereka dapeeeeeeeet.. cool.. ^ ^



Tanpa sepengetahuan Min Ho, Ayah Ji Hyun datang ke kantor. Ia membicarakan sesuatu dengan departemen keuangan. Kedatangan ayah Ji Hyun mengejutkan Min Ho, Min Ho lalu mendatangi ayah JI Hyun lalu mengantarkannya kembali ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Ayah Ji Hyun terlihat tidak enak badan. Entah karena khawatir atau ingin mengetahui sesuatu, Min Ho mendatangi dokter yang merawa JI Hyun. Ia mencoba bertanya pada dokter mengenai kesehatan Ayah JI hyun. Dokter itu mengatakan kalau ternyata, sudah sejak lama Ayah Ji Hyun mengidap tumor otak. Min Ho shock mendengar hal itu. Tidak ada yang mengetahui perihal penyakit tumor yang meradang di otak ayah Ji Hyun. Parahnya, tumor otak itu sudah menjalar ke seluruh saluran otak. Operasi pun sudah sangat percuma karena keberhasilannya sangat minim.
Hari ini adalah ulang tahun Han Kang. Ji Hyun yang mengetahui hal itu, langsung membuatkan makanan special untuk Han Kang. JI Hyun membuatkan sup rumput laut. Ia pergi ke restaurant han kang dan memberikan makanan yang ia buat pada bibi Han Kang. Ji Hyun sengaja tidak mengizinkan namanya disebut atas pemberian makanan special untuk Han Kang.
Paman Han Kang mengajak Han Kang untuk makan sup rumput laut bersama. Saat hendak makan, Han Kang melihat ada remis di dalam sup rumput lautnya, ia bertanya pada paman “Paman, memasukkan remis di sup rumput lautku, apa kau mengetahui hal itu dari ibuku?” Paman malah tidak mengerti, ia berkata “Tidak. Song Yi Kyung yang mebawakan ini.” Han kang terkejut, “Song Yi Kyung. Bagaimana dia tahu tanggal ulang tahunku?” Paman lalu menjawab, “Karena ia memasak banyak, jadi dia membawakannya ke sini.”

Sup rumput laut dengan tambahan remis di dalamnya adalah makanan favorit Han Kang. Itu merupakan makanan special yang dibuatkan ibu Han Kang, special untuk dirinya. Sup rumput laut itu juga yang mengingatkan dirinya dengan masa silam. Masa saat ia dan Ji Hyun SMA. Ji Hyun adalah satu-satunya orang yang mengetahui makanan favorit han kang yang satu ini. Jelas, hal ini membuat han kang aneh. Ia bahkan berkata, “Aku tidak tau, apa arti perasaanku ini. Apa ini karena Ji hyun atau karena Yi Kyung.” Ucapnya. Kemudian, Han Kang bergegas untuk pergi menemui Yi Kyung. Ia sama sekali tidak memakan sup rumput laut miliknya. Paman yang melihat hal itu juga heran.

Ada hal yang membuat Han Kang untuk melakukan hal itu. Han Kang melajukan mobilnya dengan cepat, sesampainya di apartement Min ho. Han Kang memencet bel beberapa kali. Yi kyung yang tengah membereskan pakaian Min ho, ia terkejut saat melihat bahwa yang datang adalah Han Kang. Yi Kyung terpaku, ia engga untuk membukakan pintu. Han Kang semakin keras menggedor-gedor pintu rumah. Han Kang berteriak memanggil Yi Kyung, “Song Yi Kyung-ssi. Song Yi Kyung-ssi. Song Yi Kyung-ssi.” Yi Kyung sama sekali tidak berkutik.





Khawatir Han Kang akan mendobrak pintu, Yi Kyung lalu membukakan pintu. Han Kang menghampiri Yi Kyung, dan Yi kyung malah memundurkan langkahnya. Han kang berkata kesal, “Aku bertanya padamu. Yi Kyung, apa alasanmu untuk tetap berada di sini?” Yi Kyung gugup, “Ini.. Aku sudah katakan kemarin.” Han Kang mengeraskan suaranya, “Kalau alasanmu tinggal di sini karena kau menyukai Kang Min Ho. Katakan. Aku tidak akan memperdulikan hal itu lagi.” Yi Kyung terdiam.
“Tapi, bukan itu alasanmu, jangan tinggal disini.” Han Kang menarik paksa tangan Yi Kyung.

Bersambung ...
= Best scene =


HBD LEE YO WON UNNIE ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar