Laman

Kamis, 14 April 2011

paradise ranch 4 part 2

 anneyong Haseyo...
aku bakalan lanjutin paradise ranch 4 part 2... 



DETAIL
  • Title: 파라다이스 목장 / Paradise Mokjang
  • Also known as: Paradise Farm, Paradise Meadow
  • Genre: Romance, drama
  • Episodes: 16
  • Broadcast network: SBS
  • Broadcast period: 2011-Jan-24 to 2011-Mar-15
  • Air time: Monday & Tuesday 20:55 
SYNOPSYS

Dong Joo and Da Ji were once desperately in love and married at 19 after struggling to convince their parents, but they had divorced after a mere six months. Six years later, they meet coincidentally at a horse auction in Australia and discover that their feelings for each other are still very much alive. 

CAST
Extended Cast
Prodaction Credit

PARADISE RANCH 4 PART 2

Da Ji dan Yun Ho duduk di kapal menatap langit malam sambil meminum wine. Da Ji berkata, "Saat aku kecil, mimpiku adalah menjadi ahli genetika. Tapi saat itu, semakin aku menginginkannya maka semakin aku terlihat tidak bahagia. Aku suka membaca komik, aku memiliki seri Red Haired Anne dan Alpine Rose. Aku juga suka menonton film. Terutama film yang Hugh Grant menjadi tokoh utamanya. Aku selalu menonton semua filmnya karena dia adalah tipe idealku. Ahjusshi sekarang giliranmu. Apa mimpimu saat kecil?" Yun Ho tersenyum dan menjawab, "Entahlah. Aku memiliki tujuan namun aku tidak takin apakah itu sebuah mimpi."

Da Ji berkomentar, "Hmm Ahjusshi, kau ini seperti Santa Claus. Saat aku berusaha mengambil darah kuda, di kapal ini, dan juga saat kita bertemu di Australia. Kau selalu memberikanku hadiah." Yun Ho tersenyum dan berkata, "Kau juga sama." Da Ji kembali berkata, "Sangat menyenangkan bisa mengenal Ahjusshi." Da Ji tersenyum dan meminum winenya. Yun Ho menatap Da Ji dan berkomentar, "Hmm ada sesuatu di sudut bibirmu." Da Ji mengelapnya namun ternyata Da Ji salah mengelap di sudut bibirnya. Yun Ho pun membantu mengelap air wine yang ada di sudut bibir Da Ji. Da Ji terdiam dan menatap Yun Ho.

Yun Ho menatap Da Ji dan lama-lama dia pun mulai mendekat ke arah Da Ji berniat menciumnya. Namun kemudian dia tersenyum saat melihat bahwa Da Ji sudah memejamkan matanya. Yun Ho bertanya, "Mengapa kau memejamkan matamu?" Da Ji membuka matanya dengan sangat kaget dan salah tingkah. Tiba-tiba Da Ji mendekati Yun Ho dan menciumnya. Da Ji sendiri kaget karena dia tiba-tiba mencium Yun Ho, "Maafkan aku Ahjusshi." Yun Ho balas bertanya, "Hmm apa yang perlu di maafkan? Ayo pergi. Aku akan mengantarmu." Da Ji panik, "Tidak perlu... Tidak perlu... Aku bisa berjalan pulang sendiri." Da Ji mengambil tasnya dan langsung berlari pergi. Yun Ho hanya tersenyum melihat hal itu.

Da Ji pulang ke rumah dan dia memukulkan kepalanya pada kayu di rumah, "Aku sudah gila... Aku gila..." Dong Joo yang melihat hal itu pun berkomentar, "Kau memang gila. Dari mana saja kau?" Da Ji kaget melihat kedatangan Dong Joo, "Aku membersihkan kapal." Dong Joo menatap Da Ji dengan seksama dan dia melihat bahwa bibir Da Ji memerah dan biasanya bibir yang memerah itu di karenakan meminum wine., "Kau meminum wine merah. Kau mencuri red wine dari kapal, kan?" Da Ji kaget, "Mencuri? Apa yang kau maksud hah? Apakah aku ini pencuri?"

Dong Joo bertanya kembali, "Lalu mengapa dengan bibirmu itu?" Da Ji semakin salah tingkah, "Ada apa dengan bibirku?" Dong Joo berkomentar, "Ah ini pasti benar. Jika tidak maka apakah kau akan membeli red wine untuk di minum hah? " Da Ji kesal dan berkata, "Sudah kukatakan tidak!!" Da Ji pun langsung masuk kedalam rumah dan membiarkan Dong Joo mengomel kesal.

Di dalam kamar, Dae Eun sedang olah raga sambil terus berbicara pada Da Ji yang berbaring di kasur, "Jika kau bekerja kerasa melakukan olah raga ini maka akan membuat dadamu bidang. Ayo lakukan bersama. Untuk hidup yang sehat maka kita harus berolah raga." Da Eun kesal karena Da Ji hanya diam saja. Da Eun mendekati Da Ji dan berkata, "Apakah kau tetap mencoba menutupi dariku bahwa kau baru saja minum red wine bersama Ahjusshi itu?? Kenapa dengan matamu itu? Terlihat tidak fokus? Ada apa? Apakah kau menjatuhkan dirimu sendiri pada Ahjusshi itu karena kau begitu menyukainya?" Da Ji menjawab, "Da Eun.... Andai saja aku bisa kembali ke satu jam yang lalu..." Da Eun berkomentar, "Tentu saja tidak bisa!"

Da Eun kembali bertanya, "Apakah kau benar-benar menjatuhkan dirimu sendiri pada Ahjussi itu? Ah benar-benar.... Biasanya laki-laki tidak pernah menolak wanita." Da Ji tetap saja terus memeikirkan kejadian yang terjadi di kapal.

Ayah Dong Joo sedang makan siang bersama dengan selingkuhannya. Selingkuhannya ini adalah wanita yang masih sangat muda. Ayah Dong Joo terlihat genit pada wanita muda itu dan tiba-tiba saja dia tersedak karena kaget melihat ada Kakek Dong Joo. Wanita selingkuhan Ayah Dong Joo bertanya, "Oppa, siapa kakek ini?" Kakek Dong Joo menjawab, "Aku adalah Ayah Oppa-mu ini!" Ibu Dong Joo juga datang dan berdiri di belakang Kakek. Hal ini semakin membuat Ayah Dong Joo terdiam malu. Kakek berkomentar, "Kau harusnya lebih peduli pada Ibu dari anakmu!!" Kakek pun lalu berjalan pergi meninggalkan meja Ayah Dong Joo. Ibu Dong Joo terus mengikuti Kakek.


Kakek dan Ibu Dong Joo kemudian duduk di satu meja di dalam Restaurant. Kakek berkata, "Huh aku benar-benar tidak memiliki kepercayaan diri lagi untuk menampakkan wajahku di depanmu." Ibu Dong Joo dengan tenang berkata, "Ini bukan 1 atau 2 hal lagi. Ayah mertua tidak perlu khawatir." Kakek bertanya, "Jadi apakah kau akan tetap berencana untuk tidak pulang ke rumah? Tanpamu di rumah sangat sepi. Baik itu anak atau cucu, mereka akan melakukan hal yang benar-benar tidak bisa di ucapkan dalam kata-kata." Ibu Dong Joo berkata lembut, "Ayah mertua, tolong berikan aku waktu." Kakek tersneyum dan berkata, "Bagaimanapun juga, kau harus memikirkan Ayah mertuamu ini dan Dong Joo..."

Ayah Dong Joo datang ke meja Kakek Dong Joo dan duduk. Ayah Dong Joo bertanya dengan sinis, "Kenapa? Apa kau mau makan lagi disini? Kami berencana hanya makan berdua saja." Ayah Dong Joo hanya terdiam. Ibu Dong Joo lalu bertanya, "Bagaimana dengan Dong Joo? Apakah kau berencana membiarkan Dong Joo tinggal di Pulau Jeju?" Kakek menjawab, "Tentu, dia melakukan hal yang baik sekarang. Biarkan dia tinggal di peternakan untuk 2 bulan hingga dia mendapatkan surat persetujuan." Ayah Dong Joo ikut bertanya, "Lalu setelah dia mendapatkan surat persetujuan itu, Apakah kau akan kembali membawanya?" Kakek menjawab dengan ketus, "Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu! Lakukan saja urusanmu." Ayah Dong Joo terdiam malu.


Pagi hari Da Ji terlihat melamun dan Da Eun pun langsung berkata pada Kakaknya itu, "Unni... Berhentilah melamun!!" Da Ji terlihat lesu dan dia pun bertanya, "Da Eun ah... Apakah aku harus keluar kerja di peterankan itu?" Da Eun menjawab, "Dengan bayaran yang tinggi itu maka kau harus tetap melakukannya walaupun kau merasa malu." Yun Ho keluar dari kamar mandi dan mendengar pembicaraan itu lalu bertanya, "Ada apa? Apa ada masalah dengan Yun Ho??" Da Eun menjawab dengan sinis, "Ini aneh. Apakah seorang mantan suami harus peduli dengan hubungan mantan istrinya hah?" Dong Joo berkomentar, "Kau ini sudah SMP namun kenapa aku tidak pernah melihat kau belajar?" Da Eun balas berkata, "Tapi setidaknya aku tidak seperti seseorang yang terus di ajari oleh Kakakku ini hingga usianya 21 tahun!!(Menyindir Dong Joo)"

Dong Joo kesal dan berkata pada Da Ji, "Da Ji! Kau yakinkan bekerja dengan baik hari ini! Surat persetujuan itu!!" Dong Joo langsung pergi bergitu saja. Da Eun yang ikut kesal pun marah pada Da Ji, "Cepat dapatkan surat persetujuan itu dan usir Han Dong Joo keluar!!!"


Dong Joo pergi ke sebuah toko bunga dan membeli seikat bunga. Pelayan toko bunga itu bertanya, "Hmm bagaimana dengan yang warna merah?" Dong Joo menjawab, "Hmm tidak. Aku ingin yang terang. Ah yang ini saja." Dong Joo pun memilih bunga lili berwarna putih dan tersenyum.


Dong Joo datang ke kantornya Jin Young dan bingung karena melihat suasana kantor Jin Young yang kosong. Dong Joo pun lalu menelfon Jin Young, "Oh Jin Young, aku ada di ruanganmu." Jin Young menjawab, "Aku akan segera kesana. Tunggulah." Dong Joo tersenyum dan menutup telfonnya. Dong Joo melihat ada sebuah album foto dan dia tersenyum kembali saat melihat ada foto-foto dirinya. Dong Joo bergumam, "Benar-benar... Kapan dia mengambil foto-foto ini?" Dong Joo terus tersenyum melihat foto-fotonya. Namun kemudian senyumnya hilang karena di dalam album foto itu juga ada fotonya Yun Ho. Bahkan ada foto saat Yun Ho bersama dengan Jin Young.

Dong Joo menjatuhkan bunga yang ia bawa dan terlihat sangat kecewa. Dong Joo lalu ingat kata-kata Jin Young, "Mengapa dia tidak menyukai laki-laki yang tampan ini? Justru dia menyukai seseorang yang bahkan tidak pernah melihat ke arahnya...(dia=Jin Young)." Dong Joo juga ingat ekspresi Jin Young saat mendengar Yun Ho mengatakan kalau Da Ji adalah wanita yang di sukainya. Jin Young menelfon Dong Joo namun Dong Joo tidak mengangkat telfon itu.


Ayah Da Ji sedang ada di peternakan kuda di Seoul. Dia sedang menghadapi kuda yang belum siap untuk bertanding. Ibu Dong Joo datang dan tersenyum melihat perlakuan Ayah Da Ji itu pada kuda. Ibu Dong Joo memberikan makanan pada Ayah Da Ji dan mereka pun mulai berbincang-bincang. Ibu Dong Joo berkata, "Maaf atas kejadian yang lalu. Ayah Dong Joo dan aku berkelakuan tidak baik. " Ayah Da Ji berkomentar, "Aku rasa kalian masih saling memiliki rasa. Makanya kalian seperti itu." Ibu Dong Joo berkata, "Aku tidak yakin apakah masih ada rasa atau tidak. Kami sudah hidup berpisah selama 2 tahun." Ayah Da Ji berkata, "Bagaimanapun juga kita tidak bisa memilih bagaimana mengenai kehidupan kita. Tapi janganlah hidup seperti ini. Saat seseorang itu tidak ada di depanmu maka perasaan itu akan pergi menghilang."

Ibu Dong Joo berkata, "Oppa... Kau sudah hidup sendiri selama 20 tahun. Dan tetap menyimpan perasaan itu." Ayah Da Ji tersenyum dan berkomentar, "Itu... Jangan hidup dengan menderita. Kau tidak boleh menderita hanya karena orang kampung sepertiku ini. Aku merasa bersalah padanya sehingga aku bersikap seperti ini." Ibu Dong Joo tersenyum dan berkata, "Oppa, kau masih tetap sama."


Da Ji datang ke Resort dengan ketakutan. Dia berusaha menutupi wajahnya dan berlari cepat menuju peternakan untuk mengurus kudanya Yun Ho. Ternyata Yun Ho melihat Da Ji yang berlari itu dan dia tersenyum.


Da Ji mengurus kuda milik Yun Ho itu dan berbicara dengan kuda itu, "Ya Unni ini menyukaimu. Bagaimanapun juga, yang Unni lakukan... Pergi hingga sejauh ini hanya karena seseorang yang tidak menerimanya. Ini mungkin akan menjadi complicated."


Dong Joo yang kecewa dengan Jin Young pun menghabiskan waktu seharian diruangan kantornya. Dong Joo melihat HPnya dan ada 5 panggilan miscall dan 2 sms dari Da Ji, salah satu isi pesan Da Ji adalah "Apakah kau tidak akan pulang ke rumah?". Dong Joo pun dengan kesal menelfon Da Ji. Da Ji bertanya, "Aku menelfonmu 5 kali. Dimana kau?" Dong Joo menjawab dengan sangat ketus, "Mengapa kau selalu berlebihan? Apakah aku akan pulang atau tidak itu bukanlah urusanmu!! Kau pikir kau ini siapa hah?" Da Ji jadi bingung, "Kalau begitu mengapa menelfonku? Aku hanya ingin tau saja kemana kau karena ini sudah tengah malam namun kau belum pulang juga." Dong Joo kembali membentak, "Apakah itu rumahku?" Da Ji pun ikut terpancing dengan kesal, "Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?"

Da Ji lalu menyindir Dong Joo, "Walaupun jika seorang anjing tidak pulang ke rumah maka akan selalu ada pintu kecil untuk anjing itu." Dong Joo tentu marah karena dia merasa di samakan dengan Anjing, "APA? Anjing? Apakah kau masih ada yang ingin dikatakan hah?" Da Ji berkata, "Maksudku adalah pintu tidak akan dikunci. Jika kau tidak akan pulang maka sebaiknya mengirimkan pesan." Kata-kata Da Ji itu tidak didengar oleh Dong Joo karena Dong Joo sudah langsung mematikan HPnya. Da Ji menatap HPnya dengan kesal, "Apakah aku salah berbicara? Huh dasar brengsek!!!"


Pagi hari Dong Joo keluar dari ruangannya dan berjalan keluar. Jin Young sedang berolah raga pun melihat Dong Joo dan menghampirinya, "Dong Joo. Ada apa kemarin? Aku pikir kemarin kita sudah sepakat akan makan siang bersama." Dong Joo terlihat lesu, "Maaf. Ada sesuatu yang penting kemarin. Aku akan pergi mandi dan kembali untuk olah raga." Saat Dong Joo akan pergi, Jin Young menahannya, "Ada apa? Apakah ini karena kata-kata yang aku katakan pada saat itu?" Dong Joo menjawab, "Aku tau kata-katamu pada saat itu hanya bercada. Park Jin Young adalah orang yang senang mengatakan lelucon."

Jin Young berkata dengan cepat, "Ini bukan lelucon. Kau juga berharap bahwa ini bukan lelucon kan?" Dong Joo tersenyum dan berkata, "Aku baik-baik saja. Bagaimanapun jangan melakukan hal ini dengan tergesa-gesa. Kau lanjutkan saja berolah raga." Dong Joo berjalan pergi meninggalkan Jin Young yang masih kebingungan melihat sikap Dong Joo itu.


Da Ji sedang berada di peternakan Yun Ho dan mengurus kuda-kuda. Tiba-tiba Da Ji bersembunyi di balik kuda-kuda itu karena melihat kedatangan Yun Ho dan beberapa orang dari perusahaan asing. Yun Ho yang melihat ada kaki Da Ji di balik kuda pun meminta izin untuk permisi sebentar. Yun Ho mendekati kuda itu dan memukul pelan kuda sehingga kuda itu berjalan dan sosok Da Ji yang sedang bersembunyi pun terlihat. Da Ji tersenyum malu pada Yun Ho.


Dong Joo berada di ruangannya dan Asistennya terus menerus memuji kemampuan Yun Ho yang luar biasa hebat. Dong Joo dengan kesal memarahi Asistennya itu, "Kau terlalu ribut!!" Asisten Dong Joo pun terdiam dan hanya meminta Dong Joo untuk menandatangani berkas. Dong Joo lalu kembali memarahi Asistennya itu, "Jika aku mengambil alih perusahaan Dong In ini maka siapakah yang akan aku pecat duluan? Kau ini tidak memiliki saham. Kau lebih memilih untuk mendengar istruksinya hah? Jadi kau bisa meninggalkan Dong In dan pindah ke FRIENDS(Perusahaan Yun Ho)" Asisten Dong Joo hanya terdiam mendengar kata-kata Dong Joo.


Da Ji duduk terdiam di dekat rumahnya Tuan Yang sambil memikirkan masalahnya, "Sebelum ini semuanya baik-baik saja. Namun karena dia datang dan menyebabkan masalah. Yeah benar. Aku akan mulai dibenci." Dong Joo datang dan membuat Da Ji kesal. Da Ji langsung berkata, "Kau ini pihak pembeli jadi sebaiknya jangan ikut campur masalah ini." Dong Joo kesal, "Kau memintaku untuk tidak ikut campur, lalu mengapa kau memintaku untuk datang?" Da Ji menjawab, "Aku hanya akan melakukan hal ini demi memenuhi kontak!" Da Ji pun kemudian berjalan pergi meninggalkan Dong Joo untuk menghampiri Tuan Yang.


Da Ji berkata pada Tuan Yang, "Aku sudah katakan bahwa tidak peduli dengan kontrak!" Tuan Yang kaget mendengarnya, "Aku... Aku hanya rakut jika kau di manfaatkan oleh mantan suamimu ini." Da Ji menjawab, "Dong Joo ini tidak akan melakukan hal sepeti ini hanya demi surat persetujuan. Dia tidak akan melibatkan pernikahan kami ini dalam masalah seperti ini." Dong Joo kaget mendengarnya karena pada kenyataannya Dong Joo memang memanfaatkan Da Ji untuk meminta surat persetujuan masyarakat. Da Ji kembali melanjutkan ucapannya, "Dia menerima berbagai penghargaan karena perilakunya yang baik saat di sekolah. Jadi tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu pada mantan istrinya! Jadi kumohon kau meminta maaf padanya!!" Dong Joo salah tingkah dan berkata pada Da Ji, "Jangan ucapkan apapun. Kita pergi saja."

Tuan Yang berkata, "Kau menjadi seperti ini karena kau tidak mengklarifikasi situasinya dan nantinya aku lah yang harus membayar kompenasasi." Da Ji berkata marah, "Paman tidak pernah memberikan satu sen pun pada pelatihan kuda. Obat pun kau hanya bisa mengkredit. Walaupun aku memiliki kemampuan untuk menanganinya, aku benar-benar berterima kasih. Karena hal itu aku selalu setiap malam datang untuk merawat kuda-kudamu. Walaupun orang banyak mengatakan bahwa kau memanfaatku, namun aku tidak pernah memikirkan hal itu. Kenapa? Karena kau berfikir kau begitu tulus. Tapi tidak lagi sekarang. Untuk biaya pelatihan kuda dan biaya obat, sebaiknya kau membayarnya padaku. Di lain hari, aku akan meyakinkan diri bahwa aku tidak akan pernah memberikan obat gratis untukmu. Dong Joo ayo kita pergi saja... Dan tisu ini tidak akan aku berikan kepadamu!!" Tuan Yang tiba-tiba menghentikan langkah Da Ji, "Aku hanya perlu menandatanganinya kan?" Da Ji tersenyum penuh kemenangan.


Da Ji melihat ada gandum yang sedang di jemur di dekat rumahnya Tuan Yang dan dia pun bertanya pada Tuan Yang, "Paman, bukankah ini gandum untuk fermentasi bir?" Tuan Yang menjawab, "Ya mereka mengatakan seperti itu dan bilang bahwa nanti itu akan berguna namun tidak berguna juga hingga sekarang."


Da Ji mendapatkan ide dan membawa gandum-gandum itu ke Ahjusshi dan Ahjumma. Ahjusshi merasakan rasa gandum itu dan mengangguk. Da Ji dan Dong Joo pun sangat senang, "Benarkah itu cocok?" Ahjusshi menjawab, "Aku sudah mengecheck kadar gula dan proteinnya, ini cocok." Tuan Yang pun sangat senang mendengarnya, "Gandumku itu cocokkan? Apa kau tau betapa susahnya aku menumbuhkan semua ini?" Dong Joo lalu berkata, "Aku akan membayarnya. Namun aku akan membayarnya bulan depan. (Kartu kredit Dong Joo dibekukan Kakek jadi tidak bisa mengambil uang.)" Tuan Yang berkata, "Huh mana mungkin aku mempercayai kau?? Hanya orang miskin yang memerlukan biaya kredit, mengapa Orang kaya sepertimu juga memerlukan hal kredit hah? Kalau begitu Da Ji saja yang memberikan pinjaman." Da Ji dengan cepat menjawab, "Tidak!" Dong Joo kaget mendengarnya.

Akhirnya Ahjusshi lah yang membayar uang untuk gandum itu. Dong Joo menunduk malu, "Aku akan mengganti uang itu. Maafkan aku." Ahjusshi berkata, "Lupakan masalah uang itu. Dan terima kasih untuk kerjamu." Da Ji tersenyum dan berkata, "Ah ya kalau begitu Dong Joo akan membantu di restaurant ini hingga tangan Ahjusshi sembuh kembali." Dong Joo kaget mendengarnya.


Da Ji dan Dong Joo pun terpaksa membersihkan Restaurant milik Ahjusshi dan Ahjumma. Da Ji dengan semangat membersihkan Restaurant namun Dong Joo justru hanya diam saja dan terus menatap kesal pada Da Ji. Da Ji tersenyum dan berkata, "Ada dua hal yang tidak bisa aku lakukan dihidupku. Menjadi mayat hidup dan menjadi peminjam dana. Aku lebih memilih mati. Tapi aku akan memberikan uang padamu..." Dong Joo marah, "Siapa yang meminta uang padamu? Aku tidak akan pernah melakukannya!!" Da Ji tersenyum, "Aku tau bahwa kau tidak senang akan hal ini, tapi kau tidak seharusnya melakukan hal seperti itu. Ini bukan hal uang. Aku mengatakan hal seperti ini karena aku memiliki pengalaman."

Da Ji membersihkan meja dan melihat ada bir yang tersisa. Da Ji pun meminum bir yang tersisa itu. Dong Joo kaget melihatnya dan langsung membentak Da Ji, "Apakah kau selalu makan dan minum seperti ini? Apa kau ini pengemis?" Da Ji berkata, "Apa masalahnya? Apa kau marah karena aku tidak meminjamkan uang padamu hah? Ah aku akan meneraktirmu minum. Bagaimana?"


Da Ji membawa Dong Joo ke tempat penyimpanan bir Jeju di Restaurant itu. Da Ji memberikan segelas bir hitam buatan Jeju pada Dong Joo. Da Ji bertanya, "Apakah kau tidak pergi kencan lagi?" Dong Joo balas bertanya dengan ketus, "Bagaimana denganmu? Apakah kau juga melaporkan apa yang kau makan hah?" Da Ji menjawab, "Semua sudah berakhir. Walaupun ini tidak pernah dimulai. Tapi aku senang. Ini seperti mimpi yang hangat dimusim semi." Dong Joo berkomentar, "Lagi pula apa yang bagus dari laki-laki yang selalu membuat wanita menangis itu?" Da Ji berkata, "Dia bukan tipe seperti itu!!"

Dong Joo jadi mengomel kesal, "Huh apa sih yang bagus dari dia? Kau sebaiknya tidak pergi bersama tipe orang seperti itu lagi! Mengerti?" Da Ji jadi kesal karena terus di marahi, "Mengapa kau terus berteriak padaku? Apa kau pikir bahwa aku ini mudah di manfaatkan hah? Pada saat di kapal itu juga kau membuatku sangat marah!! Jangan samakan diriku dengan pacarmu yang seperti putri itu! Karena kamare pacarmu itu maka kau membiarkan aku jatuh!" Dong Joo berkata, "Dia bukan pacarku. Dia bukan kekasihku. Ini hanya cinta bertepuk sebelah tangan saja. Maaf atas kata-kata yang aku katakan padamu. Ah apakah kau mempunyai makanan?" Da Ji menjawab, "Ada. Tunggu aku akan mengambilkannya."


Jin Young masih sibuk di ruangannya dan dia bingung karena sudah seharian ini Dong Joo tidak menelfonnya. Jin Young pun memutuskan untuk menelfon Dong Joo, "Dong Joo, apakah kau sudah tidur?" Dong Joo menjawab, "Tidak. Apa ada masalah?" Jin Young menjawab, "Kau belum menghubungiku seharian ini. Walaupun aku tidak tau yang terjadi namun hal ini sangat aneh. Apakah aku salah? Jika ini karena kejadian saat itu... " Dong Joo memotong ucapan Jin Young dengan cepat, "Aku menyukaimu bukan sebagai teman. Tapi menyukaimu karena kau wanita. Aku menyukaimu." Jin Young menjawab, "Aku tau. Aku sangat merasa meminta maaf dan berterima kasih." Dong Joo berkata kembali, "Terima kasih dan maaf. Aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi."

Jin Young bertanya, "Kau mabuk. Apakah kau ingin aku datang ketempatmu?" Dong Joo menjawab, "Tidak perlu datang. Cukup dengarkan baik-baik. Selama 3 tahun ini aku tidak pernah memandangmu sebagai teman. Dan hal itu tidak pernah berubah. Jadi seperti yang kau katakan. Ayo kita mulai berpacaran. Kita tidak perlu berteman kembali. Ayo mulai berpacaran." Ternyata kata-kata itu di dengar oleh Da Ji.


Da Ji pergi keluar dari Restaurant dan memakan cemilan yang tdi dia bawa, "Huh mengapa rasanya aneh? 'Aku sudah menyukaimu sejak 3 tahun...' Dia benar-benar orang yang gigih."


Pagi-pagi Da Ji dan Da Eun masih tertidur. Ada suara sms dan Da Eun berkata pada Da Ji, "SMS..." Da Ji bangun dengan kesal dan mengambil Hpnya untuk melihat sms itu. Da Ji melihat sms itu dan langsung kaget saat melihatnya.


Dong Joo juga terbangun pagi karena mendapatkan sms dari Jin Young. Isi smsnya "Apakah kita bisa sarapan bersama?" Dong Joo tersenyum melihat sms itu dan langsung bangun dari tidurnya. Dong Joo melihat pakaiannya yang dicuci itu sudah rapih di kamarnya dan Dong Joo kesal karena ternyata pakaian dalamnya di cuci oleh Da Ji.


Da Ji berlari keluar dari rumahnya dan melihat Yun Ho yang sudah ada di depan rumahnya. Yun Ho meminta maaf karena dia datang terlalu pagi namun Da Ji bilang bahwa hal itu tidak apa-apa. Da Ji bertanya, "Hal penting yang kau maksud apa?" Yun Ho tersenyum dan menjawab, "Mimpiku saat kecil adalah menjadi kartunis. Namun karena aku tidak bisa menggambar maka aku tidak percaya diri. Itu lah sebabnya aku menyerah. Aku senang membaca. Senang menonton film saat sedang hujam dan aku mengoleksi semua film Vivian. Aku lebih suka beer dari pada red wine. Aku menyukai pasta dengan saus sambal. Ah mengapa aku tidak memasakannya untukmu malam ini?"

Yun Ho tiba-tiba mendekati Da Ji dan mencium kening Da Ji lalu mengacak-acak rambut Da Ji. Da Ji terlihat malu, "Aku belum mencuci rambutku..." Yun Ho tersenyum, "Aku mungkin tidak bisa sebahagia dirimu. Mungkin kau akan kecewa, Aku akan sering menganggumu." Da Ji tersenyum malu, "Tidak apa-apa kok." Yun Ho balas tersenyum dan berkata, "Sepertinya aku sangat menyukaimu." Da Ji tersenyum senang. Yun Ho menarik tangan Da Ji dan menggenggamnya.


Tapi kebahagiaan mereka berdua itu terganggu karena Dong Joo tiba-tiba keluar dari rumah dan berteriak pada Da Ji, "Ya!! Lee Da Ji!! Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak mencuci pakaian dalamku! Lalu mengapa kau mencucinya hah?" Dong Joo juga sama-sama kaget saat melihat bahwa Da Ji sedang bersama Yun Ho.


To Be Continue paradise ranch 5
^Gomayowo^


1 komentar:

  1. Hi, Tolong ya jika mengambil sinopsis dari Blog saya (zoladiaries.blogspot.com) maka dicantumkan credit/sumber-nya. Terima kasih :-)

    BalasHapus